MAKALAH
Ketuhanan dan Tuhan yang Maha Esa
Makalah ini disusun untuk memenuhi
salah satu tugas
Mata Kuliah Agama Islam
H. Otong
Surasman,Msi
Disusun oleh :
Kelompok I
Galih Jefri Hariyanto : 24214439
Adhitya Widyastuti : 20214228
Faizal Nauvaldi : 23214842
Muhammad Mulia : 27214418
Wahyu Aji Santoso : 2c214120
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keimanan sering disalah pahami
dengan 'percaya', keimanan dalam Islam diawali dengan usaha-usaha memahami
kejadian dan kondisi alam sehingga timbul dari sana pengetahuan akan adanya
Yang Mengatur alam semesta ini, dari pengetahuan tersebut kemudian akal akan
berusaha memahami esensi dari pengetahuan yang didapatkan. Keimanan dalam
ajaran Islam tidak sama dengan dogma atau persangkaan tapi harus melalui ilmu dan pemahaman.
Implementasi dari sebuah keimanan
seseorang adalah ia mampu berakhlak terpuji. Allah sangat menyukai hambanya
yang mempunyai akhlak terpuji. Akhlak terpuji dalam islam disebut sebagai
akhlak mahmudah. Sebagai umat islam kita mempunyai suri tauladan yang perlu
untuk dicontoh atau diikuti yaitu nabi Muhammad SAW. Ia adalah sebaik-baik
manusia yang berakhlak sempurna. Ketika Aisyah ditanya bagaimana akhlak rosul,
maka ia menjawab bahwa akhlak rosul adalah Al-quran. Artinya rosul merupakan
manusia yang menggambarkan akhlak seperti
yang tertera di dalam Al-quran.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana implementasi dari Ketuhanan dan Tuhan yang Maha Esa?
2. Apa pengertian Keimanan dan Ketakwaan?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui implementasi dari ketuhanan dan Tuhan yang Maha Esa.
2. Untuk mengetahui
pengertian Iman dan Taqwa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Korelasi
Keimanan dan Ketaqwaan
Keimanan pada keesaan Allah (tauhid)
meliputi dua aspek, yaitu Tauhid Teoritis dan Tauhid Praktis.
1.
Tauhid Teoritis, adalah
pengakuan tentang keesaan zat, sifat, dan perbuatan tuhan, sehingga berkaitan
dengan kepercayaan, pengetahuan, persepsi, dan pemikiran manusia tentang konsep
tuhan. Konsekuensi logis tauhid teoritis adalah pengakuan yang ikhlas bahwa Allah adalah
satu-satunya wujud mutlak yang menjadi sumber dari semua wujud.
2.
Tauhid Praktis (Tauhid Ibadah), adalah terapan atau tindak lanjut dari tauhid teoritis
yang berupa amal perbuatan atau ibadah manusia.
Perpaduan antara tauhid teoritis dan
praktis merupakan bentuk keimanan yang sempurna. Sedangkan taqwa merupakan
perasaan takut dan mengagungkan kepada Allah dengan cara melaksanakan
perintah-perintahNya dan menjauhi semua larangaNya. Dengan demikian korelasi
antara keimanan dan ketaqwaan adalah sangat erat. Taqwa merupakan bukti atau
perwujudan dari orang yang memiliki kesempurnaan iman. Sementara iman merupakan
dasar dan semangat yang melandasi
ketaqwaan.
Surat Al-Anfal ayat ke 2-3
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ
إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَتُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ
زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٢)
Artinya:
Sesungguhnya
orang-orang yang beriman
ialah mereka
yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan
ayat-ayatnya bertambahlah
iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal.
At-Taghabun ayat 13
اللَّهُ لا إِلَهَ
إِلا هُوَ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (١٣)
Artinya:
(Dia-lah) Allah, tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal
kepada Allah saja.
An-Nur ayat ke 62
إِنَّمَا
الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ
عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ
يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا
اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ
وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٦٢)
Artinya:
Sesungguhnya yang sebenar-benar
orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan
apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang
memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta
izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad)
mereka Itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Maka apabila
mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada
siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk
mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ø Keimanan dan Ketaqwaan dalam Islam menurut Imam 'Ali bin Abi Tholib mempunyai 4
Pilar, yaitu: Sabar,
Yakin, Keadilan, Jihad.
·
Sabar mempunyai 4 Cabang, yaitu:
a. Rindu (Syauq) : maka barang siapa yang rindu pada Surga, dia akan
melupakan segala godaan hawa nafsu.
b. Takut (Syafaq) : barangsiapa yang takut akan Neraka, dia akan
meninggalkan segala yang diharamkan.
c. Zuhud : barangsiapa yang zuhud di dunia, dia akan menganggap
ringan segala musibah.
d. Antisipasi (Taroqqub) : barangsiapa yang mengantisipasi kematian, dia akan
bergegas melakukan amal-amal kebajikan.
·
Yakin mempunyai 4 Cabang, yaitu:
a. Memandang
segala sesuatu dengan ketajaman pikiran, maka barangsiapa yang memandang segala sesuatu
dengan ketajaman pikiran, akan jelas baginya hikmah.
b. Menafsirkan
dengan hikmah, barangsiapa yang jelas baginya hikmah, dia akan mengenal pelajaran.
c. Menjadikan
pelajaran sebagai nasihat, dan barangsiapa yang telah mengenal pelajaran,
seakan-akan dia termasuk orang-orang terdahulu.
d. Sunnah
orang-orang terdahulu
·
Keadilan mempunyai 4 Cabang, yaitu:
a. Menyelami
Pemahaman, barangsiapa yang paham, dia akan mengetahui kedalaman ilmu
b. Mendalami
Ilmu,
barangsiapa yang telah mengetahui kedalaman ilmu, akan keluar darinya
syariat-syariat hukum
c. Mengetahui
Intisari Hukum
d. Kukuh
Dalam Kesabaran, dan barangsiapa yang bersabar, dia tidak akan melampaui batas dalam semua
urusannya dan akan hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai orang terpuji.
·
Jihad mempunyai 4 Cabang, yaitu:
a. Mengajak
Kepada Kebaikan, barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan, dia telah membantu orang-orang
Mukmin
b. Mencegah
Kemungkaran, barangsiapa yang mencegah kemungkaran, dia telah merendahkan orang-orang
kafir
c. Lurus
Dalam Setiap Keadaan, barangsiapa yang lurus dalam setiap keadaannya, semua kebutuhannya akan
terpenuhi.
d. Membenci
Orang-orang Fasik, barangsiapa yang membenci orang-orang fasik dan marah karena Allah, maka Allah akan marah karena marahnya, dan
Dia akan menjadikannya ridho pada hari kiamat.
Ø KeimananDan Ketaqwaan Dalam Islam seorang Mukmin mempunyai 3 waktu, yaitu:
1. Waktu dia bermunajat kepada
Tuhan-nya
2. Waktu mencari penghidupannya
(bekerja), dan
3. Waktu Dia menikmati kesenangan
dirinya (dalam hal-hal yang dihalalkan)
Ø Orang yang Bijak hanya merasa
mantap pada 3 keadaan, yaitu:
1. Memperbaiki penghidupannya, atau
2. Melangkah dalam urusan akhirat,
atau
3. Menikmati kesenangan dalam hal
yang tidak diharamkan
B. Konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid)
Ilmu
Tauhid adalah ilmu tentang Kemaha Esaan Tuhan (Osman Raliby). Menurut Osman
Raliby ajaran Islam tentang Kemaha Esaan Tuhan sebagai berikut :
1. Allah Maha Esa dalam
Zat-Nya
Kemaha
esaan Allah dalam zat-nya dapat di rumuskan dengan kata-kata bahwa zat allah
tidak sama dan tidak dapat di bandingkan dengan apapun juga.
2. Allah Maha Esa dalam
Sifat-Sifatnya
Kemaha
esaan Allah dalam sifat-sifatnya ini mempunyai arti bahwa sifat-sifat allah
penuh kesempurnaan dan keutamaan, tidak ada yang menyamainya. Sifat-sifat allah
yang ada di dalam al-qur’an ada 99 yang disebut juga dengan asmaul husna
C. Filsafat Ketuhanan dalam Islam dan Penjelasan Tentang Iman Secara Singkat
Definisi Tuhan adalah Sesuatu yang dipentingkan oleh manusia sedemikian
rupa, sehingga manusia merelakan
dirinya dikuasai oleh-Nya. Tuhan adalah pencipta alam semesta beserta seluruh isinya, Tuhan itu Maha
Esa, Tiada Tuhan selain Allah SWT, Laa Ilaahaillallaah.
Dalam perkembangan Sejarahnya, Manusia mempunyai pemikiran tentang Tuhan.
Dan pemikiran tersebut terbagi dua, yaitu Agama yang bersifat primitif dan ada
pula yang dianut oleh masyarakat yang telah meninggalkan fase keprimitifan. Berikut penjelasannya :
1.
Agama Primitif.
Berikut adalah paham-paham yang dipercaya dalam perkembangannya :
a.
Dinamisme: paham yang
mempercayai bahwa roh-roh nenek moyang manusia mendiami suatu benda. Sehingga
manusia-manusia menyembah benda-benda tersebut dengan maksud meminta
pertolongan atau berdo'a kepada roh-roh nenek moyang.
b.
Animisme: paham yang
mempercayai bahwa tiap benda (baik yang hidup dan yang tak hidup) memilik
roh-rohnya tersendiri. Sehingga penganut paham ini menyembah-menyembah
benda-benda yang demikian.
c.
Politeisme: adalah paham
yang menganut banyak tuhan dalah hal ini adalah dewa. Mereka percaya bahwa di
dunia ini diatur oleh banyak dewa-dewi, seperti dewi hujan, dewa petir, dewa
bencana, dan sebagainya.
d.
Henoteisme: adalah paham
menganut banyak tuhan juga namun diantara tuhan-tuhan tersebut terdapat tuhan
yang paling mendominasi (pemimpin).
e.
Monoteisme: adalah paham
yang menganut tuhan tunggal.
2. Agama Dalam masyarakat maju agama yang dianut bukan lagi agama primitif tetapi,
Agama Monoteisme dan Agama Tauhid.
a. Monoteisme (Tuhan Satu, Tuhan Maha Esa)
b. Agama Tauhid
(adanya satu Tuhan yaitu Allah SWT)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Definisi Tuhan adalah Sesuatu yang dipentingkan oleh manusia sedemikian
rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh-Nya. Tuhan adalah
pencipta alam semesta beserta seluruh isinya, Tuhan itu Maha Esa, Tiada Tuhan
selain Allah SWT, Laa Ilaahaillallaah.
Implementasi ketuhanan dan tuhan yang maha esa yakni dengan keimanan dan
ketakwaan. Iman adalah membenarkan dengan hati (tashdiq bi qalb),
menyatakan dengan lisan (iqrar bi lisan), dan membuktikan dengan perbuatan
(amal bi arkan) terhadap kebenaran atau keyakinan tertentu. Pokok-pokok
keyakinan islam terangkum pada rukun iman yang 6 yaitu keyakinan pada Allah,
Malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Nabi dan Rasul Allah, Hari Kiamat, dan
Takdir baik dan takdir buruk. Taqwa dapat diartikan sikap memelihara keimanan
yang diwujudkan dalam pengamalan ajaran agama Islam secara utuh dan konsisten
(istiqomah).
B.
Saran
Setelah mempelajari ini diharapkan para mahasiswa mampu memahami dan memaknainya dan dapat menambah
keyakinan mereka akan ke-Esaan Allah SWT dengan meningkatkan keimanan dan
ketakwaan mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar